CEK FAKTA : “BERLINDUNG KE MASJID” PADA MUSIM WABAH PENYAKIT VIRUS CORONA (COVID-19)

Diposting pada 1.3K views

Qadarallah wa Masyaa fa’ala,dengan izin Allah musibah wabah penyakit yang disebabkan virus Corona/Covid-19 menimpa dunia. Dalam situasi seperti ini, agama Islam telah memberikan tuntunan kepada kaum muslimin untuk menempuhnya.

Di samping banyak bertaubat, berdzikir, dan berdo’a memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah Yang Maha Perkasa, setiap individu muslim juga diajarkan untuk menempuh langkah-langkah pencegahan sebagaimana telah ditetapkan dalam prosedur kesehatan. Ini semua dalam rangka menangkal penyebaran virus Corona ini atau menghambatnya.

Namun, beberapa hari ini, tersebar sebuah tulisan di media sosial yang mengajak untuk berlindung ke masjid pada musim wabah Covid-19. Tulisan tersebut menyebutkan beberapa hadits untuk mengungatkan argumennya. Berikut isi tulisan tersebut :

——————————————————

BERLINDUNG KE MASJID

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

“Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid”. [Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).]

 

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

“Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka”. [Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).]

 

Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ”

“Allah عز وجل berfirman :”Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka”. [Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

 

Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ

“Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid”. [Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata :”Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.]

 

Al-Imam al-Sya’bi, ulama salaf dari generasi tabi’in, رحمه الله تعالى berkata :

“كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ”

“Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.” [Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).]

 

Beberapa riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan untuk semakin rajin ke masjid. Bukan meninggalkan masjid, kecuali bagi orang yang terkena penyakit menular. Maka tidak boleh ke masjid.

——————————————————

 

Demikian tulisan tersebut. Benarkah isi tulisan tersebut? Untuk itu kita harus melakukan pengecekan terhadap fakta, karena ini menyangkut dalil dari hadits. Adapun fakta yang dimaksud adalah keabsahan atau keshahihan periwayatan hadits-hadits tersebut dari Nabi shallallahu alahi wa sallam. Maka, di sini kita perlu merujuk kepada para ulama pakar hadits.

 

Berikut tinjauan terhadap hadits-hadits yang dicantumkan pada tulisan di atas :

Hadits ke-1

إن الله إذا أنزل عاهة من السماء على أهل الأرض، صرفت عن عمارالمساجد “.

“Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.”

Al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, seorang ulama besar pakar hadits abad ini, menjelaskan bahwa hadits ini , pada sanadnya terdapat:

  1. Zafir bin Sulaiman. Dia adalah seorang perawi (periwayat) hadits yang lemah.
  2. Abdullah bin Abi Shalih, guru dari Zafir dalam sanad ini, juga seorang perawi yang lemah.
  3. Keterputusan mata rantai sanad antara Abdullah bin Shalih tersebut dengan shahabat Anas bin Malik. Karena Abdullah bin Shalih ini tidak tercatat meriwayatkan dari shahabat Anas.

Oleh karena itu, al-Imam al-Albani menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah, sebagaimana dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 1851.

Sementara dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 7080 beliau menyatakannya sebagai hadits mungkar.

 

Hadits ke-2

 يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ”

“Allah’Azza wa Jalla  berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka”.

 

Hadits ini pada sanadnya terdapat seorang perawi bernama Shalih bin Murri. Dia adalah seorang yang mungkarul hadits. Al-Imam al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa sanad hadits ini sangat lemah. (lihat  Silsilah Adh-Dha’ifah no. 7102)

 

 

Hadits ke-3

Sama dengan hadits pertama. Haditsnya lemah.

 

Yang ke-4

Ini bukan hadits, namun ucapan seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in. Tampak terdapat kerancuan dalam penerjemahannya, mestinya terjemahanya sebagai berikut :

‘Mereka (para sahabat) apabila kosong dari suatu pekerjaan, maka mendatangi masjid”.

Yakni jika ada waktu luang, maka mereka selalu menghabiskannya di masjid. Ucapan ulama tabi’in ini tidak ada kaitannya dengan ketakutan.

 

Dari pemaparan singkat di atas, tampak jelas bahwa dalil atau hadits-hadits yang digunakan dalam tulisan di atas adalah tidak sah.

Bahkan al-Imam al-Albani mengatakan : “Bahwa teks hadits yang dhaif (lemah) tersebut bertentangan dengan hadits :

“إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ العَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ”

“Apabila Allah menurunkan adzab pada suatu kaum, maka adzab tersebut akan mengenai semua orang yang berada di tengah kaum tersebut. Kemudian Allah akan bangkitkan mereka sesuai dengan amalannya masing-masing.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad; dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’).

Hadits ini keumuman maknanya mencakup pula orang-orang yang meramaikan masjid dan selain mereka pula. Maka renungkanlah.” (lihat Silsilah adh-Dha’ifah 1851).

Artinya adzab Allah berupa bencana, musibah, termasuk wabah penyakit bisa mengenai siapa saja, tanpa kecuali. Baik orang beriman maupun kafir, orang shalih maupun orang ahli maksiat. Namun nilai dan kedudukan mereka di hadapan Allah akan berbeda-beda, sesuai dengan nilai amal masing-masing di dunia.

Sehingga pernyataan penutup pada tulisan di atas, “bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat iniumat Islam dianjurkan untuk semakin rajin ke masjid. Bukan meninggalkan masjid.” Tidak bisa dibenarkan secara mutlak. Karena jika kondisinya mengkhawatirkan untuk tertular atau menulari, maka diizinkan untuk tidak ke masjid.

Tindakan ini tidak kemudian dikatakan sebagai perbuatan “meninggalkan masjid”. Dengan demikian jelas pula bagi pembaca, bahwa dalam situasi wabah seperti ini, berlaku hukum darurat. Yaitu dalam kondisi terpaksa, seorang muslim diizinkan tidak hadir ke masjid untuk shalat berjama’ah.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *