Contoh Hadits Palsu dan Lemah dalam Kitab Fadhail A’mal Jamaáh Tabligh

Diposting pada 753 views

Asy-Syaikh Hamud bin Abdullah at-Tuwaijiri rahimahullah berkata dalam kitabnya, al-Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’ah at-Tabligh (hlm. 11—12),

“Kitab terpenting bagi orang yang menjadi tablighi adalah kitab Tablighi Nishab (Fadha`il al-A’mal), yang ditulis salah seorang pemimpin mereka, Muhammad Zakaria al-Kandahlawi. Mereka memiliki perhatian yang demikian besar terhadap kitab ini. Mereka mengagungkannya sebagaimana Ahlus Sunnah mengagungkan kitab Shahih (al-Bukhari dan Muslim), dan kitab-kitab hadits lainnya. Para tablighiyin telah menjadikan kitab kecil ini sebagai sandaran dan referensi, baik bagi orang India maupun bangsa ajam (non-Arab) lainnya yang mengikuti ajaran mereka.

Dalam kitab ini termuat berbagai kesyirikan, bid’ah, khurafat, dan banyak sekali hadits palsu serta lemah. Jadi, hakikatnya, ini adalah kitab yang jahat, sesat, dan fitnah. Kaum tablighiyin telah menjadikannya sebagai referensi untuk menyebarkan bid’ah dan kesesatannya, melariskan serta menghiasinya di hadapan kaum muslimin yang awam, sehingga mereka lebih sesat jalannya dari hewan ternak.”[1]

Adapun secara rinci, maka pembahasan kami bagi menjadi beberapa subbahasan sebagai berikut:

Pertama: Al-Kandahlawi dan Takhrij Haditsnya

Sebagaimana yang telah kita sebutkan, kitab ini memuat banyak hadits lemah, mungkar, palsu, bahkan tidak ada asalnya. Terkadang sebagian riwayat tersebut diketahui penulisnya.

Namun, sangat disayangkan, takhrij hadits itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasanya. Kitab ini ditulis dalam bahasa Urdu (salah satu bahasa resmi di Asia Selatan, -red.), kemudian dibaca mayoritas kaum muslimin yang tidak mengerti bahasa Arab. Mereka pun menganggap baik kitab ini dan menyangka bahwa semuanya boleh dijadikan sebagai hujah. Selanjutnya mereka membaca lalu menjadikannya sebagai keyakinan. Akhirnya, terjerumuslah mereka dalam penyimpangan dan kesesatan.

Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

Demikian pula ketika kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tidak diterjemahkan takhrij haditsnya. Ini menyebabkan para tablighi dan simpatisannya membaca kitab tersebut tanpa membedakan antara hadits-hadits yang bisa diterima dan yang tertolak. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa contoh tentang apa yang kami sebutkan.

 

  1. Disebutkan dalam kitab Fadha`il al-A’mal, “Bab Fadhilah adz-Dzikr”[2] hadits dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

لَمَّا أَذْنَبَ آدَمُ الذَّنْبَ الَّذِي أَذْنَبَهُ، رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ. فَقَالَ: تَبَارَكَ اسْمُكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي رَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى عَرْشِكَ فَإِذَا فِيْهِ مَكْتُوبٌ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْظَمَ عِنْدَكَ قَدْرًا عَمَّنْ جَعَلْتَ اسْمَهُ مَعَ اسْمِكَ. فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ: يَا آدَمُ إِنَّهُ آخِرُ النَّبِيِّيْنَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ وَلَوْ لاَ هُوَ مَا خَلَقْتُكَ [3]

Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa, “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.”

Allah berfirman kepadanya, “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?”

Adam menjawab, “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu. Ternyata di situ tertulis ‘Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah’. Aku pun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu daripada orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.”

Allah berfirman kepadanya, “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”

Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa penerjemahan takhrij hadits yang disebutkan al-Kandahlawi.

Dia berkata setelah itu, “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam ash-Shaghir, al-Hakim, Abu Nu’aim, al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam ad-Durr. Dalam Majma’ az-Zawa`id (disebutkan), diriwayatkan ath-Thabarani dalam al-Ausath dan ash-Shaghir, dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata, ‘Hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang masyhur, “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini’.” Al-Qari berkata dalam al-Maudhu’at, “Hadits ini palsu.”

Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

Cobalah Pembaca perhatikan. Hadits ini pada hakikatnya telah diketahui oleh penulisnya sebagai hadits yang tidak bisa dijadikan hujjah, bahkan tidak dikuatkan dengan adanya jalan (sanad) lain. Namun, ucapan ini tidak diterjemahkan sehingga para pembaca kitab ini menyangka bahwa hadits ini bisa diamalkan.

Rincian kedudukan hadits ini bisa dilihat dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (1/25) dan kitab at-Tawassul mulai hlm. 105, dst. Kedua kitab tersebut karya al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Beliau menghukumi hadits tersebut sebagai hadits palsu.

 

  1. Disebutkan pula pada bab yang sama[4] dalam kitab tersebut, hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bersedih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Mengapa aku melihatmu bersedih?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, semalam aku berada di sisi anak pamanku, si Fulan yang telah meninggal dunia.”

Rasul bertanya, “Apakah engkau mentalqinnya dengan Laa ilaaha illallah?”

Ia menjawab, “Telah kulakukan, wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya, “Ia mengucapkannya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Telah wajib baginya surga.”

Abu Bakr bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang yang masih hidup mengucapkan kalimat itu?”

Beliau bersabda, “Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka. Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka.”

Hadits ini pun disebutkan tanpa diterjemahkan takhrijnya. Padahal al-Kandahlawi mengomentari hadits tersebut dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dalam sanadnya terdapat Za`idah bin Abi Raqqad, dihukumi tsiqah (dianggap tepercaya, -red.) oleh al-Qawariri, namun dihukumi lemah oleh al-Imam al-Bukhari dan yang lainnya[5]. Demikian yang terdapat dalam Majma’ az-Zawa`id[6].”

Perkataan ini tertulis dalam bahasa Arab sehingga tidak pernah dibaca oleh para pembacanya.

Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

 

  1. Disebutkan pula pada bab yang sama[7] hadits Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa mengucapkan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَحَدًا صَمَدًا لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allah akan menuliskan baginya dua juta kebaikan.”

Hadits ini diterjemahkan pula maknanya tanpa menerjemahkan komentarnya yang mengatakan, “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, demikian disebutkan dalam at-Targhib dan Majma’ az-Zawa`id. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Faid Abul Warqa, ia ditinggalkan haditsnya (matruk).”

Hal yang seperti ini sangat banyak kita dapatkan dalam kitab ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *