Contoh Hadits Palsu dan Lemah dalam Kitab Fadhail A’mal Jamaáh Tabligh

Diposting pada 753 views

Ketiga: Membawa Pemahaman Sufi

Kitab ini banyak sekali menukil pemikiran kaum Sufi yang dapat menjerumuskan kaum muslimin dalam berbagai penyimpangan, seperti kerusakan akidah, sikap ekstrem dalam beribadah, dan semisalnya.

Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kitab ini menjadi buku pegangan seorang tablighi, karena Jamaah Tabligh merupakan kelompok yang dibangun di atas empat tarekat Sufi: Naqsyabandiyah, Jusytiyah, Sahrawardiyah, dan Qadiriyah.[9]

Berikut ini, akan kami nukilkan pula beberapa perkataan yang dinukilkan dari kaum Sufi.

Disebutkan pada “Bab Fadhilah Shalat” (hlm. 316—317), al-Kandahlawi berkata,

Asy-Syaikh Abdul Wahid rah. a[10], seorang sufi yang masyhur, mengatakan bahwa pada suatu hari beliau didatangi rasa kantuk yang luar biasa sehingga tertidur sebelum menyelesaikan zikir malam itu. Di dalam mimpinya beliau melihat seorang gadis berpakaian sutera hijau yang amat cantik, sementara seluruh tubuh hingga kakinya sibuk berzikir.

Gadis tersebut bertanya kepada beliau, adakah keinginan beliau untuk memilikinya? Dia mencintai beliau, kemudian dibacanya beberapa bait syair.

Setelah bangun dari tidurnya, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan tidur pada malam hari. Diriwayatkan bahwa selama 40 tahun beliau shalat shubuh dengan wudhu shalat isya.

 Dalam kisah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Allah ‘azza wa jalla telah melarang kita berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beribadah dan memerintah kita untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuan.

Jadi, agama ini menghendaki agar seorang muslim mengerjakan ibadah tersebut dalam keadaan giat, sehingga ibadah tersebut dikerjakan dengan khusyuk dan sesempurna mungkin. Apabila ia mengantuk, dianjurkan baginya beristirahat hingga rasa kantuk tersebut hilang.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid, ternyata ada sebuah tali yang terbentang di antara dua tiang.

Beliau bertanya, “Tali apa ini?”

Mereka menjawab, “Tali ini milik Zainab[11]. Jika lesu (berdiri untuk shalat), dia bergantung dengannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lepaskan (tali) itu. Hendaklah salah seorang kalian shalat di saat giatnya. Jika lesu, hendaklah ia tidur.”

Demikian pula yang diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلىَّ وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ ‌

“Jika salah seorang kalian mengantuk saat sedang shalat, hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Sebab, jika salah seorang kalian shalat dalam keadaan mengantuk, sungguh dia tidak mengetahui, bisa jadi dia hendak beristighfar, tetapi tanpa sadar justru mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaihi)

 

b. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan shalat malam adalah yang beliau sebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud u. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud alaihis salam, beliau tidur di pertengahan malam, bangun di sepertiga malam, dan tidur seperenam malam.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Disebutkan pula dalam kitab ini, hlm. 484, dari Syaikh Waliyullah yang berkata dalam kitab Qaulul Jamil,

“Ayah saya telah berkata bahwa ketika saya baru belajar suluk, dalam satu nafas dianjurkan supaya membaca Laa ilaaha illallah sebanyak dua ratus kali.

Syaikh Abu Yazid Qurthubi berkata, ‘Saya mendengar bahwa barang siapa membaca kalimat Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, ia akan terbebas dari api neraka.’

Setelah mendengar hal itu, saya membaca untuk istri saya sesuai dengan nishab[12] tersebut. Tidak lupa, saya juga membaca untuk nishab diri saya sendiri.

Di dekat saya, tinggal seorang pemuda yang terkenal sebagai ahli kasyaf[13]. Dia juga kasyaf tentang surga dan neraka. Namun, saya agak meragukan kebenarannya.

Suatu ketika, pemuda tersebut ikut makan bersama kami. Tiba-tiba ia berkata dan meminta kepada saya sambil berteriak, katanya, “Ibu saya masuk neraka, dan telah saya saksikan keadaannya.”

Melihat kegelisahan pemuda tersebut, saya berpikir untuk mem-acakan baginya satu nishab bacaan saya untuk menyelamatkan ibunya, di samping juga untuk mengetahui kebenaran mengenai kasyaf-nya. Saya membacanya sebanyak 70.000 kali sebagai nishab yang saya baca untuk diri saya itu, guna saya hadiahkan kepada ibunya. Saya meyakini dalam hati bahwa ibunya pasti selamat. Tidak ada yang mendengar niat saya ini kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Setelah beberapa waktu, pemuda tersebut berteriak, “Wahai paman, wahai paman, ibu saya telah bebas dari api neraka.”

Dari pengalaman itu, saya memperoleh dua manfaat (1) Saya menjadi yakin tentang keutamaan membaca Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, karena sudah terbukti kebenarannya; (2) Saya menjadi yakin bahwa pemuda tersebut benar-benar seorang ahli kasyaf.”

Cobalah perhatikan kisah ini. Jika seorang muslim membaca dan meyakini cerita khurafat ini, maka dia akan terjatuh ke dalam berbagai penyimpangan, di antaranya:

  • Menetapkan wirid tertentu dengan bilangan yang telah ditetapkan, lalu menyebutkan keutamaannya, yang semuanya tidak bersumber dari pembawa syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini jelas merupakan bid’ah yang jahat dan menyesatkan. (Silakan baca kembali Majalah Asy-Syariah I/No. 07/1425 H/2004, Bid’ahnya Dzikir Berjamaah)
  • Apa yang disebut sebagai ahli kasyaf adalah dusta belaka. Sebab, tidak seorang pun dapat mengetahui nasib seseorang di akhirat, apakah dia pasti masuk ke dalam surga atau neraka, kecuali yang dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba yang dikehendaki-Nya dari kalangan para rasul-Nya. Firman-Nya,
Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

 

عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

“(Dialah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

Penukilan-penukilan yang seperti ini banyak sekali terdapat dalam kitab Fadha`il al-A’mal karya Muhammad Zakaria tersebut. Karena itu, hendaklah kaum muslimin berhati-hati dari kitab ini.

Hendaknya kaum muslimin mencari kitab-kitab yang jauh lebih selamat, yang bisa mengantarkan seseorang untuk mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti kitab Shahih al-Bukhari pada “Kitab ar-Raqa‘iq”, “Kitab al-Adab”, dan yang semisalnya. Demikian pula Shahih Muslim pada “Kitab adz-Dzikr” dan “Kitab al-Bir wash Shilah wal Adab”, dan kitab-kitab sunnah yang lainnya. Atau seperti kitab Riyadhus Shalihin, karya an-Nawawi; kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[14]. Masih banyak lagi kitab-kitab sunnah yang jauh lebih baik dan selamat dari berbagai penyimpangan.

Wallahu a’lam.

 

[1] al-Qaulul Baligh, hlm. 11—12

[2] Hlm. 497, versi bahasa Indonesia, terbitan Ash-Shaff, Yogyakarta, Sya’ban 1421 H.

[3] Dalam cetakan tersebut terdapat kekurangan dalam penukilan lafadz Arabnya, disempurnakan oleh penulis dari referensi lainnya.

[4]  Hadits no. 32, hlm. 503

[5] Al-Imam al-Bukhari tidak hanya menghukuminya lemah, tetapi lebih dari itu, munkarul hadits. Apabila al-Imam al-Bukhari menghukumi seorang rawi dengan hukum ini, maksudnya adalah tidak dihalalkan mengambil riwayat dari perawi tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan Ibnul Qaththan bahwa al-Imam al-Bukhari berkata, “Semua yang aku tetapkan sebagai munkarul hadits maka tidak halal mengambil riwayat darinya.” (Mizanul I’tidal, 1/119, biografi Aban bin Jabalah al-Kufi)

Baca juga :  Bolehkah Ikut Khuruj Bersama Karkun Jamáh Tabligh (JT)?

[6] Fadhilah Dzikr, hlm. 504.

[7] Hlm. 507, hadits ke-35

[8] Al-Makhraj minal Fitnah, hlm. 96

[9] Al-Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’ah at-Tabligh, Hamud at-Tuwaijiri, hlm. 11

[10] Demikian tertulis, maksudnya radhiallahu anhu.

[11] Terjadi silang pendapat tentang Zainab yang dimaksud dalam hadits ini. Ada yang mengatakan Zainab bintu Jahsy, salah seorang Ummul Mukminin. Ada pula yang mengatakan Hamnah bintu Jahsy, yang memiliki nama lain Zaenab. Sebab, semua anak perempuan Jahsy dipanggil dengan nama Zainab. (Dalil al-Falihin, 1/287)

[12]  Nishab artinya bagian.

[13] Ahli kasyaf adalah seseorang yang mampu melihat segala hal gaib, karena hijab telah diangkat darinya. Begitulah anggapan mereka, namun hakikatnya semua itu adalah bohong belaka.

[14] Yang keduanya telah di-takhrij dan di-tahqiq hadits-haditsnya oleh al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Sumber: https://asysyariah.com/kitab-fadhail-amal-dalam-timbangan-as-sunnah/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *