Korelasi Fatwa Nomor 246 Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior) Kerajaan Saudi Arabia Dengan Kebijakan Pemerintah Kita

Diposting pada 215 views

Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior) merupakan lembaga resmi di Kerajaan Saudi Arabia. Terkumpul padanya para ulama senior yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, memiliki wawasan yang luas dan tinjauan berpikir yang jauh.

Fatwa-fatwanya menjadi rujukan pemerintah dan rakyat Saudi Arabia dalam berbagai permasalahan, baik yang bersifat klasik maupun kontemporer. Bahkan, diperhitungkan dalam skala dunia internasional.

Terkait mencuatnya pandemic covid-19 yang disebabkan virus corona, penyebaran dan penularannya yang cepat, serta tingginya angka kematian karenanya dengan izin Allah, tercatat minimalnya ada dua fatwa yang dikeluarkan secara bertahap oleh Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior), sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada di Saudi Arabia ketika fatwa itu dikeluarkan.

Dua fatwa tersebut adalah sebagai berikut :

Fatwa pertama no. (246)

Dikeluarkan pada Hari Rabu 16 Rajab 1441H /11 Maret 2020M dalam sidang rapat luar biasa ke-24 yang digelar di Kota Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Saudi Arabia.

Fatwa kedua, no. (247)

Dikeluarkan pada Hari Selasa 22 Rajab 1441H /17 Maret 2020M dalam sidang rapat luar biasa ke-25 yang digelar di Kota Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Saudi Arabia.

Menariknya, dua fatwa di atas mendapatkan respons positif dari banyak kalangan muslim di tanah air, terkhusus Salafiyyin Ahlus Sunnah Wal jama’ah. Walaupun di sisi lain, ada pula pihak yang kurang respons dengan beberapa dalih yang tak mendasar.

Mari kita telaah dua fatwa tersebut secara objektif dan proporsional.

Apakah fatwa tersebut benar-benar ilmiah syar’i dan ilmiah medis atau tidak?!

Apakah sejalan dengan kebijakan pemerintah kita atau tidak?!

Untuk kemudian dinilai, apakah fatwa tersebut tepat guna atau tidak bagi kita di tanah air ini?!

Baca juga :  WABAH VIRUS CORONA, SALAFY SEBAGAI PEMBEDA

 

Adapun fatwa pertama, no. (246), maka menekankan tiga arahan penting :

1. Bagi orang yang positif terinfeksi covid-19 DIHARAMKAN menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَايُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah pemilik onta yang sakit menggiring ontanya bersamaan dengan pemilik onta yang sehat menggiring ontanya.” (Muttafaqun Alaihi)

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kalian mendengar wabah tha’un menjangkiti suatu wilayah maka janganlah kalian masuk ke wilayah tersebut, dan jika kalian berada di wilayah yang terjangkiti wabah tha’un maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun Alaihi)

 

2. Bagi orang yang telah diputuskan oleh institusi yang berwenang untuk diisolasi, maka WAJIB mematuhi keputusan tersebut. Tidak boleh baginya menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid, dengan tetap menunaikan shalat lima waktu tersebut di rumahnya atau di tempat isolasinya.

Berdasarkan riwayat asy-Syarid bin Suwaid ats-Tsaqafi radhiyallahu anhu, ia berkata,

كَانَ فِي وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ، فَارْجِعْ!)

“Dahulu di antara delegasi Bani Tsaqif ada seorang yang berpenyakit kusta, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus orang (untuk menyampaikan, pen.) kepadanya, ‘Kami telah membaiatmu, maka pulanglah!’.” (HR. Muslim)

 

3. Barang siapa khawatir tertular covid-19 atau menularkannya kepada orang lain, maka dia mendapatkan dispensasi untuk tidak menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri maupun yang membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Bagi semua pihak yang telah disebutkan di atas, manakala tidak menghadiri shalat jumat di masjid maka dia menggantinya dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

 

ULASAN :

Fatwa ini berisi arahan bagi individu tertentu atau anggota masyarakat tertentu (sesuai rincian dalam fatwa), untuk tidak menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid di masa tersebarnya wabah covid-19 atau adanya kekhawatiran semakin berkembang pesatnya penyebaran wabah tersebut.

Sehingga problem yang diangkat di sini ada dua tinjauan, ilmiah syar’i dan ilmiah medis.

Baca juga :  Haruskah Taat Pemerintah untuk Berdiam Di rumah ? Bagaimana dengan Usaha Jualan Keliling Saya ?

Dikatakan ilmiah syar’i karena berkaitan dengan permasalahan shalat jumat dan shalat berjamaah yang berdasarkan dalil-dalil syar’i, hukum asalnya dikerjakan di masjid.

Dikatakan ilmiah medis karena diantara sebab utama yang dijadikan dasar untuk merubah hukum asal, sehingga menjadi dikerjakan di rumah (untuk shalat jumat diganti dengan shalat zhuhur empat raka’at) sangat erat dengan permasalahan medis, yaitu tersebarnya wabah covid-19 yang telah diakui secara internasional sebagai pandemic wabah yang melanda dunia secara global.

Dalam hal mendudukkan permasalahan tersebut, Haiah Kibarul Ulama membawakan dalil-dalil syar’i yang sangat tepat untuk substansi permasalahan yang sedang diangkat. Dalil-dalil berupa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (ilmiah syar’i) yang sekaligus bermuatan ilmiah medis. Baik dalil yang terdapat pada poin arahan no. 1, 2, maupun 3.

Rincian yang disebutkan dalam fatwa Haiah Kibarul Ulama di atas berjalan seiring dengan imbauan atau instruksi pemerintah kita, antara lain yang dikeluarkan oleh Bpk Presiden RI Joko Widodo sebagai berikut,

“Dengan kondisi saat ini saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah, inilah saatnya bekerja bersama-sama saling tolong-menolong dan bersatu padu, gotong royong.” Imbauan atau instruksi ini disampaikan di Istana Kepresidenan Bogor, Bogor, Jawa Barat, Minggu 15/3/2020.

“Jangan ragu untuk menegur seseorang yang tidak disiplin dalam menjaga jarak, tidak mencuci tangan, dan abai menjaga kesehatannya. Bagi yang terbukti positif terinfeksi Covid-19 atau menduga diri ada kemungkinan terinfeksi, segera isolasi diri dan menjaga kesehatan. Saya minta kepada daerah dan lingkungan yang belum terinfeksi Covid-19 untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar mengurangi resiko penularan virus korona. Dan kepada daerah dan lingkungan yang telah ada terinfeksi, agar membantu saudara-saudara kita yang terinfeksi untuk bisa mengisolasi diri dan memberikan bantuan yang memadai”. Imbauan atau instruksi tersebut disampaikan pada Jumat 19/3/2020.

Dengan demikian fatwa Haiah Kibarul Ulama tersebut mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan kebijakan pemerintah kita. Sehingga benar-benar tepat guna untuk kita di tanah air.

 

RENUNGAN

Manakala fatwa Haiah Kibarul Ulama no. 246 tersebut tepat guna berdasarkan dalil-dalil ilmiah syar’i dan ilmiah medis, kemudian berjalan seiring dengan imbauan atau instruksi Bapak Presiden kita, maka tidak ada alasan bagi anggota masyarakat yang dimaksud dalam fatwa tersebut untuk menyelisihinya.

Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihi dalil-dalil syar’i terkait pencegahan dan penanggulangan covid-19 dengan alasan-alasan yang tak mendasar. Terlebih manakala pemerintah sedang berjuang untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan covid-19 ini, hingga keluarlah Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 7 Tahun 2020 yang berisi pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Baca juga :  DALIL-DALIL SYAR'I YANG MEMBOLEHKAN MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID DEMI KEMASLAHATAN YANG LEBIH BESAR (Bagian #3)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَطِيْعُواللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri (penguasa, pen.) di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)

Atas dasar itu, marilah berlapang dada untuk menerapkan fatwa tersebut;

1. Bagi orang yang positif terinfeksi covid-19 DIHARAMKAN menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid.

2. Bagi orang yang telah diputuskan oleh institusi yang berwenang untuk diisolasi, maka WAJIB mematuhi keputusan tersebut. Tidak boleh baginya menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid, dengan tetap menunaikan shalat lima waktu tersebut di rumahnya atau di tempat isolasinya.

3. Bagi orang yang khawatir tertular covid-19 atau menularkannya kepada orang lain, maka dia mendapatkan dispensasi untuk tidak menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid.

Bagi semua pihak yang telah disebutkan di atas, manakala tidak menghadiri shalat jumat di masjid, maka dia menggantinya dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

Ingatlah bahwa rahmat Allah sangat luas. Manakala seorang hamba terhalang shalat di masjid karena sakit atau udzur lainnya maka dia akan mendapatkan pahala sempurna seperti ketika dia menunaikannya di masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيماً صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bepergian jauh (safar), maka dicatat baginya (pahala) seperti yang biasa dia kerjakan ketika dalam keadaan muqim dan sehat.” (HR. Al-Bukhari)

Arahan yang disebutkan dalam fatwa merupakan sebuah ikhtiar yang termasuk bagian dari tawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena tawakkal tidak menafikan ikhtiar, bahkan berjalan seiring dengannya.

Cinta kepada masjid dan beribadah di dalamnya merupakan tanda ketaqwaan, karena masjid termasuk dari syiar agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun, dalam kondisi saat ini manakala covid-19 telah menjadi pandemic wabah dan angka kematian semakin hari semakin bertambah maka situasinya tidak lagi normal alias darurat. Kondisi darurat mempunyai perlakuan khusus dalam Islam yang disesuaikan dengan kadarnya.

Maka fatwa di atas sangat tepat untuk diterapkan dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Wallahu a’lam

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *