Korelasi Fatwa Nomor 247 Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior) Kerajaan Saudi Arabia Dengan Kebijakan Pemerintah Kita

Diposting pada 206 views

Fatwa nomor 247 Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior) Kerajaan Saudi Arabia, adalah fatwa yang dikeluarkan pada Hari Selasa 22 Rajab 1441H /17 Maret 2020 M dalam sidang rapat luar biasa ke-25 yang digelar di Kota Riyadh. Sidang rapat dihadiri pula oleh Menteri Kesehatan Kerajaan Saudi Arabia.

 

Kronologis Fatwa

Fatwa ini dikeluarkan oleh Haiah Kibarul Ulama (Komite Ulama Senior) ketika penyebaran dan penularan covid-19 ini semakin dahsyat, dan angka kematian yang disebabkannya pun biidznillah semakin tinggi.

Setelah melakukan kaji telaah dari tinjauan ilmiah syar’i dan ilmiah medis sesuai dengan perkembangan kasus terkininya, maka Haiah Kibarul Ulama merekomendasi penonaktifan shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid, dan penutupan pintu-pintu masjid di seluruh Kerajaan Saudi Arabia untuk sementara waktu, dengan tetap dikumandangkan adzan padanya.

Dikecualikan dua masjid yang mulia Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Shalat lima waktu tetap dikerjakan di rumah, sedangkan shalat jumat diganti dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

Fatwa dengan nomor 247 ini, dikeluarkan pada tanggal 22 Rajab 1441H /17 Maret 2020 M sebagai fatwa lanjutan dari fatwa sebelumnya dengan nomor 246 yang dikeluarkan pada 16 Rajab 1441H /11 Maret 2020 M.

 

Substansi Fatwa

Fatwa nomor 246 substansinya adalah rekomendasi bagi anggota masyarakat tertentu, sebagaimana yang dirinci dalam fatwa untuk tidak shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid. Adapun masjid-masjid di Kerajaan Saudi Arabia hingga saat itu, masih direkomendasi untuk melaksanakan shalat jumat dan shalat berjamaah.

Baca juga :  Komite Ulama Saudi Arabia Rilis Fatwa Terkait Ibadah Sholat Jumát Berjamaáh di Masjid Saat Wabah Pandemic Virus Corona Covid-19

Adapun fatwa nomor 247, substansinya adalah penonaktifan shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid, dan penutupan pintu-pintu masjid di seluruh Kerajaan Saudi Arabia untuk sementara waktu, dengan tetap dikumandangkan adzan padanya.

Dikecualikan dua masjid yang mulia Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Shalat lima waktu tetap dikerjakan di rumah, sedangkan shalat jumat diganti dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

 

Konsekuensi Fatwa

Dengan keluarnya fatwa nomor 247, maka rekomendasi yang terdapat pada fatwa nomor 246 tersebut tidak berlaku lagi di Kerajaan Saudi Arabia, aplikasi di lapangan berpijak pada fatwa nomor 247.

Yaitu pelaksanaan shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid untuk sementara waktu dinonaktifkan. Pintu-pintu masjid di seluruh Kerajaan Saudi Arabia untuk sementara waktu ditutup, dengan tetap dikumandangkan adzan padanya. Dikecualikan dua masjid yang mulia Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Shalat lima waktu tetap dikerjakan di rumah, sedangkan shalat jumat diganti dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

 

Korelasi Fatwa

Lalu, apa korelasi fatwa nomor 247 Haiah Kibarul Ulama tersebut dengan kebijakan pemerintah kita?

Tak dimungkiri bahwa covid-19 telah menjadi pandemic (wabah internasional) yang melanda dunia saat ini.

Semua negara waspada dan berupaya mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan sesuai dengan perkembangan kasus di masing-masingnya. Termasuk negara kita Indonesia semoga Allah menjaganya dari segala marabahaya.

Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia semoga Allah memberkahi segala langkahnya telah menempuh berbagai langkah percepatan penanganan covid-19, salah satunya menonaktifkan pelaksanaan shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid untuk sementara waktu.

Pintu-pintu masjid di seluruh Kerajaan Saudi Arabia untuk sementara waktu ditutup, dengan tetap dikumandangkan adzan padanya. Dikecualikan dua masjid yang mulia Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Baca juga :  Haruskah Taat Pemerintah untuk Berdiam Di rumah ? Bagaimana dengan Usaha Jualan Keliling Saya ?

Shalat lima waktu tetap dikerjakan di rumah, sedangkan shalat jumat diganti dengan shalat zhuhur empat rakaat di rumah.

Langkah ini diyakini jitu untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Kerajaan Saudi Arabia, karena animo masyarakat di sana untuk shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid sangat tinggi.

Saat itulah kerumunan orang terjadi yang merupakan sebab utama percepatan penyebaran covid-19.

Para ulama senior Kerajaan Saudi Arabia yang tergabung dalam Haiah kibarul Ulama melakukan kaji telaah yang mendalam terkait permasalahan ini, hingga dihasilkanlah fatwa nomor 247 sebagaimana di atas.

Pemerintah kita semoga Allah memberikan segala pertolongan-Nya, telah menempuh pula berbagai langkah dan tindakan untuk percepatan penanganan Covid-19. Bahkan secara khusus membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (covid-19), melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 7 Tahun 2020. Mengingat pentingnya permasalahan, maka Gugus Tugas ini berada di bawah Presiden RI dan bertanggung jawab langsung kepada beliau.

Berbagai upaya telah ditempuh untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah kita belum mengeluarkan keputusan tentang penonaktifan shalat jumat dan shalat berjamaah lima waktu di masjid-masjid seluruh Indonesia, sebagaimana yang ditempuh oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia di sana.

Tentu, masing-masing pemerintahan mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri dalam menentukan kebijakan yang diyakini tepat bagi negaranya dalam upaya penanganan pandemic covid-19 ini. Warga negara yang baik akan senantiasa mendengar dan taat kepada pemerintahnya di manapun ia berada, terlebih dalam hal kebaikan (ma’ruf) seperti ini.

Demikianlah diantara prinsip dakwah salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pemerintah dan kebijakannya.

Maka dari itu, kita harus senantiasa mengikuti segala arahan dan petunjuk pemerintah dalam upaya percepatan penanganan covid-19 ini. Bersinergi dengan mereka dan mendukung segala program mulia yang digulirkan.

Kalaupun sekiranya di kemudian hari, dengan segala pertimbangan yang matang pemerintah kita mengeluarkan kebijakan seperti yang dikeluarkan oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia saat ini, yaitu menonaktifkan pelaksanaan shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid untuk sementara waktu, menutup pintu-pintu masjid di seluruh Indonesia untuk sementara waktu dengan tetap dikumandangkan adzan pada setiap waktu shalat, maka tidak ada alasan yang mendasar bagi kita untuk menolaknya.

Fatwa nomor 247 Haiah Kibarul Ulama bisa dijadikan rujukan dalam kita bersikap. Dalil-dalil ilmiah syar’i dan ilmiah medis yang bersumber dari Al-Quran, Hadits Nabi, dan kaidah-kaidah fiqih pada fatwa tersebut telah memadai untuk dijadikan sebagai landasan fatwa dan bersikap pada situasi dan kondisi yang amat genting tersebut.

Baca juga :  DALIL-DALIL SYAR'I YANG MEMBOLEHKAN MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID DEMI KEMASLAHATAN YANG LEBIH BESAR (Bagian #3)

Di sinilah letak korelasi antara fatwa nomor 247 Haiah Kibarul Ulama dengan kebijakan pemerintah kita yang dimaksud dalam pembahasan ini. Wallahu a’lam

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *