MACAM-MACAM SALAFI: Benarkah Tuduhan Bahwa Salafy itu Mutasyaddid, Keras dan Ekstrim?

Diposting pada 409 views

Pertanyaan diajukan kepada   Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly Hafidzahullahu Wa Ro’aahu.

Pertanyaan : “ Telah muncul suatu kaedah baru yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari Ahlul Ilmi (Ulama’), yaitu metode yang mengklasifikasikan Ulama menjadi dua jenis:
– Ada Ulama yang Mutasahil (bermudah-mudahan) dan
– Ada juga Ulama yang Mutasyadid (ekstrim).
Terkadang mereka katakan bahwa Ulama di daerah ‘ini’ Mutasyaddid dan Ulama di daerah ‘itu’ Mutasahil. Bagaimanakah Arahan Anda tentang hal ini ?

Asy Syaikh Rabi’ Menjawab Hafidzahullahu Ta’ala :

“ Ini merupakan kaedah-kaedah palsu yang muncul dari musuh-musuh dakwah Salafiyyah. Salafush Shalih dahulu, sebagian diantara mereka ada yang bersikap ‘keras’ dan adapula sebagian lainnya yang bersikap tenang. Tidaklah hal itu menjadi sebab mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Bahkan mereka (yang bersikap keras) ini dihargai, dihormati karena sebab telah bersikap keras terhadap Ahlul Bathil.

Sebagai contoh bagimu adalah sikap dari Hammad bin Salamah yang menuai pujian dari Al Imam Ahmad dengan pujian yang harum. Bahkan Imam Ahmad menaruh curiga atas siapa saja yang mengkritisi Hammad bin Salamah, (Beliau katakan): ”Barangsiapa yang mengkritisi Hammad bin Salamah dengan kritikan yang buruk, maka hendaknya kalian curiga atas keadaan agama orang tersebut”.
Hal ini dikarenakan  Hammad bin Salamah adalah seorang yang ‘keras’ terhadap Ahlul Bid’ah.
Dahulu, sikap keras terhadap Ahlul Bid’ah merupakan suatu kedudukan yang mulia menurut penilaian salaf. Akan tetapi sekarang justru keadaannya terbalik, setelah kedatangannya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal, mereka ini mengesankan pola pikir kepada mayoritas generasi muda bahwa ‘sikap keras terhadap Ahlul Bathil’ itu tercela dan rendah. Sebaliknya, sikap berlapang dada dan toleransi menjadi hal yang istimewa  dan mulia. Namun ini sangat disayangkan sekali.
Berpegang teguhlah kalian dengan Manhaj Salafiyyah, dan bersikaplah terhadap Ahlul Bid’ah dengan sikap Salafy. Namun, tidak mengapa engkau berdakwah kepada mereka dengan Hikmah dan Mauidzhah Hasanah. Apabila mereka manyambut dakwahmu, Alhamdulillah. Jikalau tidak, maka tidak mengapa engkau bersikap keras terhadap mereka dan menyebutkan keburukannya.

Baca juga :  KELOMPOK SURURIYYAH, CIRI-CIRI DAN TOKOH PENDIRINYA

Bahkan Salafus Shalih bersikap sangat keras terhadap mereka, sampai tingkatan eksekusi mati (oleh pemerintah) atas sebagian mereka. Mereka juga menulis berbagai karya tulis yang sangat banyak tentangnya. Terus, sekarang apa yang mau kita komentari atas tindakan mereka (Salafus Shalih)?

Bacalah oleh kalian Kitab As Syari’ah karya Al Ajurry, baca Kitab As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, baca Kitab As Sunnah karya Al Khallal, tentu mereka ini tidak membaca kitab-kitab karya tulis yang disebutkan. Mereka tidaklah membaca kitab-kitab tersebut, sehingga menyebabkan mereka memandang Mauqifnya (sikap / cara pandang) Salaf tidaklah berbeda dengan Mauqifnya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *