MACAM-MACAM SALAFI: Benarkah Tuduhan Bahwa Salafy itu Mutasyaddid, Keras dan Ekstrim?

Diposting pada 409 views

Dalam kajian-kajianku, ceramah-ceramah, serta hubungan telepon yang mereka menghubungiku via telepon dari berbagai penjuru negeri, Demi Allah aku memotivasi mereka untuk saling menjaga kerukunan.

Adapun orang-orang yang telah menjegal prinsip-prinsip dasar Manhaj ini, mereka telah mencerai-beraikan generasi muda Salafiyyin di seluruh penjuru bumi. Mulai dari ujung timur sampai ujung barat, telah mereka cerai-beraikan, kemudian ditanamkanlah aqidah-aqidah bathil padanya. Setelah itu mereka justru menuduh kita telah memecah belah umat.

Demi Allah saya selalu menganjurkan generasi muda untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan. Sebagai buktinya ini ada kitab-kitab karya tulisku, adapula rekaman-rekaman kajianku, itupun sudah tertranskripkan, ini semua sebagai bukti bahwa saya telah berusaha menjaga kerukunan hubungan diantara generasi muda Salafiyyin.

Mulai dari Aljazair, maroko, yaman, syam, palestina, dan berbagai tempat yang lain, saya selalu berusaha mendamaikan dan menjaga keutuhan salafiyyin, yaitu orang-orang yang sudah jelas bagiku bahwa mereka adalah salafiyyin. Saya selalu berusaha menyatukan Salafiyyin sesuai kemampuan yang bisa saya usahakan.

Adapun mereka ini (para penjegal dakwah salafiyyah), Demi Allah mereka telah memecah belah dan  mencerai-beraikan. Tidaklah ada suatu suara yang menyerukan untuk berpecah belah dan bercerai berai kecuali pasti mereka akan mendukung suara perusak tersebut.

Barakallahu fiikum, namun kita berlepas diri dari tuduhan-tuduhan dusta (yang dialamatkan kepada kita). Saya jelaskan kepada kalian semua, bahwa Hikmah dalam berdakwah adalah suatu keharusan, akan tetapi apabila…(suara samar),…terjadi pada orang-orang syiah rafidhah dan Ahlul Bid’ah, maka jelaskanlah keadaan mereka yang sebenarnya.

Jangan engkau menzhalimi mereka, jangan engkau tuduh mereka dengan tuduhan dusta, akan tetapi yang benar adalah engkau terangkan keadaan yang sesungguhnya.

(setelah dikumandangkan adzan, Syaikh mengatakan : mari kita selesaikan permasalahan ini terlebih dahulu).

Kelanjutan jawaban Syaikh : “Dahulu Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku, Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku sampai kelulusan dari Universitas Islam (Madinah) pada tahun 1384 Hijriyah.
Dikarenakan adanya beberapa sebab, dia pindah ke Kuwait. Ia dahulu berdakwah di jalan Allah, dan kami memotivasinya, sehingga kami sangat berbahagia dengan adanya semangat dakwah yang tumbuh dalam Manhaj Salafy.

Setelah itu mulailah terjadi perubahan, perubahan, perubahan, lalu aku menuliskan kepadanya risalah-risalah nasehat yang lembut. Suatu waktu ia datang ke madinah dan ia singgah di Qiblatain…(suara samar)…Saya menyambutnya untuk naik bersama dalam mobilku, kemudian kami mengunjungi Universitas Islam (Madinah) dan berkunjung pula ke rumahku.

Aku selalu menasehatinya, dan masih terus berlanjut nasehatku tersebut kepadanya sampai berselang masa lebih kurang 12 (dua belas) tahun, Barakallahu Fiikum. Hingga kemudian sampailah tingkatan yang lebih dari cukup, dia mulai mencela Para Ulama dan melecehkannya, dan melakukan ini serta itu, saya lalu membantahnya.

Baca juga :  Bersungguh-Sungguh Dalam Tabayyun dan Tatsabbut (Cek dan Ricek)

Setelah itu muncul Adnan Ar’ur, dia mengaku sebagai seorang Salafy, akan tetapi dia mencela Manhaj Salafiyyah. Dia mengatakan bahwa Manhaj Salafy tidak memiliki landasan kuat, dan Syaikh Ibnu Baz tidak mengajarkan prinsip landasan pokok. Sedangkan Sayyid Quthub dia mengajarkan Prinsip landasan pokok, dan dari berbagai kepalsuan serta kepalsuan (dia serukan).

Mulailah saya membantah Sayyid Quthub, dan dahulu saya masih punya harapan terhadapnya sehingga aku hanya mencukupkan diri dengan beberapa bantahan dari kesalahan-kesalahannya, akan tetapi kesalahan-kesalahan itu telah sangat melampaui batas.

Demi Allah, sebagian dari kesalahan-kesalahan itu ada yang aku membantahnya setelah melalui masa selama 20 (dua puluh) tahun, padahal aku jelas meyakini bahwa itu adalah kebathilan. Hanya saja saya menghendaki bukti-bukti yang mencukupi tentang itu. Setelah saya merasa cukup, maka saya segera membantahnya. Saya tuliskan bantahan-bantahan terhadapnya atas celaan-celaan dia terhadap Para Sahabatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, kemudian Kitab ini dicetak dan tersebar.
Setelah itu berangkatlah Adnan Ar’ur mendatangi As Syaikh Al Albany, dan menanyakan kepadanya perkara-perkara yang disebutkan tanpa rincian dalam kitab itu, …(suara samar). Adapaun Sayyid quthub dia telah mencela Rasulullah Musa Alaihis Shalatu Was Sallam, mencela Para Sahabat, terutama sekali adalah Utsman, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al Ash. Bahkan dia mencela seluruh ummat ini serta mengkafirkannya. Mengingkari sebagian sifat Allah, mengucapkan tentang Ruh bersifat Azaliyah, ucapan semisal ucapan komunis, dan kesesatan-kesesatan yang tidak tahu mana awalnya dan mana pula akhirnya.

Semua itu saya terangkan didalam kitab ini, Kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub.
Dia kemudian berangkat membawa kitab ini lalu mendatangi Syaikh Al Albany, dia mempertanyakan kepada Syaikh Al Albany agar mendapatkan jawaban sesuai yang di inginkan oleh hawa nafsunya. As Syaikh Al Albany padahal belum meneliti kitab itu, aku sebutkan didalamnya celaan Sayyid Quthub terhadap Nabiyyullah Musa ‘Alaihis Salam, dan Ar’ur tidak menyebutkan perkara ini kepada Syaikh.

Setelah itu aku sebutkan lagi celaan dia kepada para sahabat, terutama adalah Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Hancurlah prinsip-prinsip dasar islam di masanya, hancur pula Ruh Islam olehnya. Gerakan yang memusuhinya dari kelompok Sabaiyah ia kedepankan daripada Manhajnya  Radhiyallahu ‘anhu.-Barakallahu Fiikum-. Semua perkara-perkara ini tidaklah disebutkan dihadapan As Syaikh, dan hanya disebutkan secara global saja, sehingga Syaikh Al Albany menjawab dengan jawaban sesuai dengan yang diinginkan oleh hawa nafsu ar’ur.

Baca juga :  Mengenal Jamaáh Tabligh (JT), Jaulah dan Khuruj Karkun

Justru kemudian dia menyebar luaskan kaset rekaman Al Albany dan melakukan suatu pergerakan yang lebih besar dibanding pergerakan yang sebelumnya.
Saya masih bisa berusaha bersabar atas ulahnya, kemudian di tahun yang sama datanglah sebagian orang dalam satu rombongan yang mengunjungiku.

Maka saya katakan, engkau haruslah meminta maaf, tapi dia justru mencari-cari celah untuk menghindar. Saya katakan lagi kepadanya, engkau harus meminta maaf, dan orang-orang yang hadir mengatakan kepadanya engkau harus meminta maaf. Maka diapun berjanji akan meminta maaf, Barakallahu fiikum, dia berjanji untuk meminta maaf…kemudian yang terjadi malah mengagetkan saya. Dia datang dengan membawa tiga kitab tandingan, kitab ini dan kitab itu yang semuanya berprinsip persis seperti kitabnya Sayyid Quthub, didalamnya terdapat pujian serta sanjungan terhadap Sayyid Quthub, inilah bentuk ‘permintaan maafnya’.

Lihatlah, kenapa dia justru semakin bertambah parah –barakallahu fiik-, semakin bertambah parah lagi ketika dia menjadi pembicara dalam sebuah acara, ia berbicara tentang Jarh Wat Ta’dil bersama orang yang lainnya lagi. Saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, lalu mereka menyerangku seperti halnya sebuah kampanye.

Maka aku pun memulai membantah mereka.
Hal ini terjadi setelah berapa waktu ? ini terjadi setelah bertahun-tahun dengan kesabaran yang sangat panjang dan masa menunggu yang lama, Demi Allah saya tidak yakin bila ada yang bisa bersabar (atas mereka) dengan kesabaranku tersebut.

Setelah itu berlalu, muncul Abul Hasan sejak pertama kali, dalam majlis aku telah menemuinya…, dia membela Ahlul Bid’ah beserta tokoh utamanya yaitu Sayyid Quthub, dia juga membela Jama’ah tabligh, serta Ikhwanul Muslimin…(suara terputus)…, semua kerusakan-kerusakan ini aku hadapi dengan lemah lembut.

Aku mengirim kepadanya jawaban, Demi Allah aku melakukannya diam-diam dengan kerahasiaan antara diriku dengan dirinya melalui Fax dariku terkirim dalam faks nya, dan aku tidaklah memberitahukannya kepada seorangpun, Barakallahu Fiikum.

Ternyata setelah itu ia masih terus menerus berkecimpung dalam berbagai kekacauan, fitnah, dan kasus sampai meninggalnya Para Masyayikh. Syaikh Ibnu Baz meninggal, Syaikh Ibnu Utsaimin meninggal, Syaikh Al Albany meninggal. Lalu dia memulai berbagai serangan, dan terang-terangan menampakkan kelompok yang tersendiri, mencela Salafiyyin dengan celaan yang menghinakan dan merendahkan, seperti ini dan itu.

Justru ia memuji Ahlul Bathil-Barakallahu fiikum-, aku menulis dua nasehat sebagai peringatan bagi Abul hasan…, aku menuliskan nasehatku yang kedua dan itu terjadi antara diriku dan dirinya, malah kemudian dia menyepelekan nasehatku, ia bangkit berdiri dan mengumumkan permusuhannya denganku terang-terangan.

Lihatlah oleh kalian, apakah kalian memahaminya ? Kalian paham ini ? Hemmhhh, tidaklah ada seseorang yang mampu bersabar dengan kesabaran seperti ini, tidak ada pula seseorang yang mampu memutuskan dengan bijak seperti kebijakan ini. Demi Allah semua ini aku lakukan dalam rangka membela Manhaj Salafiyyah, dan dalam rangka mempersatukan kalimat. Akan tetapi mereka terjangkiti perpecahan dan kehancuran.
Sudah, adapun sekarang Abul hasan sudah memiliki kelompok tersendiri di Madinah ini, memiliki kelompok sendiri di Yaman, memiliki kelompok sendiri di Libya, di Maroko, dan di berbagai tempat yang lainnya (Barakallahu Fiikum). Diatas manhajnya  yang rusak tersebut, aku telah membantah lebih kurang 20 akar penyimpangan dengan argumentasi ilmiyyah dan bukti yang jelas.

Baca juga :  KELOMPOK SURURIYYAH, CIRI-CIRI DAN TOKOH PENDIRINYA

Dua puluh manhaj diantaranya adalah manhaj yang luas tak terbatas dan busuk. Dia menginginkan manhaj yang tak terbatas, sehingga Ahlus Sunnah dan seluruh umat ini berjalan diatasnya tanpa terbatasi.

(misalnya) Kita membenarkan tapi jangan menjatuhkan, kita membenarkan tapi jangan Menyalahkan (Al Jarh)-Barakallahu Fiikum-. Berbagai kaedah yang dibuat-buat dalam rangka membantah Al Haq dan menghantam Manhaj Salafiyyah –Barakallahu Fiikum-. Maka aku membantah kaedah-kaedah rusak ini –Barakallahu fiikum-.

Namun demikian, amatlah menyedihkan apa yang terjadi, banyak manusia yang tertipu di berbagai pelosok. Padahal dahulu awal kalinya, di masa hidupnya Para Masyaikh (Ulama), Si Adnan bangkit di masa hidupnya Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama sudah  menggolongkannya termasuk Ahlul Bathil. Bangkit kemudian dua belas dari jajaran para ulama membantahnya, menjelaskan kesesatan dan penyimpangan-penyimpangannya, tapi justru dia jatuhkan semua para ulama tersebut, benar-benar ia telah menjatuhkannya.

Kemudian setelah itu dia bergabung bersama-sama dengan Abul Hasan (Al Ma’riby) dan Ali Hasan Abdul Hamid (Al Halaby) di Syam. Mereka ini justru membela mati-matian, dan memastikan kesalafiyahannya sampai hari ini. Datanglah kemudian Abul Hasan (Al Ma’riby) dengan berbagai kaedah bathil dan kerusakan-kerusakan pemikiran serta kesesatan. dan didapatkan di Madinah, di Syam, dan berbagai tempat adanya orang-orang yang membela dan membantunya sampai hari ini.

Setelah itu datang lagi Ali Hasan dengan wabah yang sangat parah, yang selalu datang membantu di setiap fitnah yang terjadi, ia datang dengan penyakit yang mewabah. Terkadang sampai kepada kalian perkara yang sampai kepadanya dan pasti akan sampai pada dirinya.(Barakallahu fiikum).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *