Mengenal Kelompok yang Mengingkari Taqdir Allah

Diposting pada 79 views

Oleh : Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc Hafizhahullah

 

Siapakah Qadariyah?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Al-Qadariyyah adalah orang-orang yang ingkar terhadap takdir. Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya apa yang terjadi di alam semesta ini bukan karena takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’la. Akan tetapi semua terjadi dikarenakan perbuatan hamba, tanpa ada takdir sebelumnya dari Allah subhanahu wa ta’la.’ Mereka ingkar terhadap rukun iman yang keenam.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh-dhallah, hlm. 29)

 

Kapan Munculnya dan Siapa Pelopornya?

Kelompok ingkar takdir ini belum pernah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga di zaman al-Khulafa ar-Rasyidin. Mereka baru muncul di pertengahan abad pertama hijriyyah di akhir masa generasi terbaik umat ini (para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Pelopornya adalah Ma’bad bin Khalid al-Juhani, salah seorang penduduk kota Bashrah.
Al-Imam Muslim bin al-Hajjaj rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya hadits no. 1 dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Yang pertama kali memelopori (menyebarkan) paham ingkar takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani.

Dia menimba paham sesat ini dari Susan, seorang Nasrani yang masuk Islam namun kemudian kembali kepada agama Nasrani.

Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Auza’i rahimahullah, “Yang pertama kali mencetuskan paham ingkar takdir adalah Susan, seorang penduduk Irak. Ia tadinya seorang Nasrani lalu masuk Islam, kemudian kembali kepada agamanya semula. Ma’bad al-Juhani menimba (paham sesat ini) darinya, kemudian Ghailan bin Muslim ad-Dimasyqi menimbanya dari Ma’bad.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnati wal Jama’ah, karya al-Imam al-Lalika-i rahimahullah, 4/827)

Baca juga :  Mengapa Allah Taála Berbuat Demikian?

Paham bid’ah ini memang lebih identik dengan sosok Ma’bad al-Juhani dan Ghailan ad-Dimasyqi daripada Susan, karena memang merekalah yang gencar dalam menyebarkannya. (lihat Manhaj al-Imam Malik fi Itsbaatil ‘Aqidah, karya Dr. Su’ud bin Abdul ‘Aziz Da’jan, hlm. 496)

Paham sesat ini akhirnya tersebar di Bashrah dan penduduknya banyak yang terpengaruh. Terlebih setelah melihat ‘Amr bin ‘Ubaid (orang yang mereka tokohkan) mengikuti paham ini.

Al-Imam as-Sam’ani rahimahullah berkata, “Penduduk Bashrah banyak yang terpengaruh dengan paham sesat ini setelah melihat ‘Amr bin ‘Ubaid mengikutinya.” (Dinukil dari al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/137)

Ideologi Qodariyah

Al-Qadariyyah di awal kemunculannya, menampakkan ideologi:

لاَ قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ

Yakni tidak ada takdir dan semua perkara yang ada merupakan sesuatu yang baru, di luar takdir dan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala (terjadi seketika, red.). Allah subhanahu wa ta’ala baru mengetahuinya setelah perkara itu terjadi. (lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/138)

Ketika bantahan dan pengingkaran as-Salafush Shalih terhadap paham sesat ini demikian gencar, sedikit demi sedikit ideologi ini sirna. Namun karena tidak sedikit dari ahlul ilmi dan ahli ibadah yang hanyut bersama mereka, ada yang justru bergeser kepada ideologi bid’ah lainnya.

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ideologi ini telah sirna, dan kami tidak mengetahui salah seorang dari muta’akhirin (yang datang belakangan, red.) yang berpaham dengannya. Adapun Al-Qadariyyah di hari ini, mereka semua sepakat bahwa Allah subhanahu wa ta’la Maha Mengetahui segala perbuatan hamba sebelum terjadi, namun mereka menyelisihi As-Salafush Shalih dengan menyatakan bahwa perbuatan hamba adalah hasil kemampuan dan ciptaan hamba itu sendiri.” (Fathul Bari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, 1/145)

Baca juga :  Mengapa Allah Taála Berbuat Demikian?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ketika paham al-Qadariyyah telah merebak serta tidak sedikit dari ahlul ilmi dan ibadah yang hanyut bersama mereka, akhirnya mayoritas mereka menetapkan adanya ilmu Allah subhanahu wa ta’la tentang segala sesuatu sebelum terjadinya. Namun mereka mengingkari keumuman masyi’ah (kehendak Allah subhanahu wa ta’la) dan penciptaan.” [1] (Kitab al-Iman, hlm. 331)

 

Mayoritas Para Ulama Mengafirkan Kelompok Al Qodariyyah

Kelompok al-Qadariyyah yang mengingkari ilmu Allah subhanahu wa ta’la atas segala sesuatu sebelum terjadinya, telah dikafirkan oleh mayoritas ulama.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh sahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma ketika disampaikan kepada beliau perihal mereka, “Jika engkau berjumpa dengan mereka, sampaikan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Zat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan-Nya (Allah subhanahu wa ta’la), jika salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya, niscaya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’la sampai ia beriman kepada takdir.” (Sahih, HR. Muslim, no. 1)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma ini, jelas sekali sebagai pengafiran beliau terhadap al-Qadariyyah.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Ini berlaku untuk al-Qadariyyah generasi awal yang mengingkari ilmu Allah subhanahu wa ta’la atas segala sesuatu sebelum terjadinya.’ Al-Qadhi ‘Iyadh juga berkata, ‘Yang mengatakan demikian, tidak diperselisihkan lagi kekafirannya’.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 1/140)

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “…adapun yang mengingkari ilmu Allah Al-Qadim, maka al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad rahimahumallah telah menyatakan dengan tegas akan kekafirannya. Demikian juga selain keduanya dari para imam kaum muslimin.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 23)

Baca juga :  Mengapa Allah Taála Berbuat Demikian?

Adapun bagi al-Qadariyyah yang masih menetapkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, namun mengingkari keumuman penciptaan dan kehendak (bagi Allah subhanahu wa ta’la), maka masih diperselisihkan para ulama.

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tentang pengafiran mereka, terdapat perselisihan yang masyhur di antara para ulama.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mereka adalah ahlul bid’ah yang sesat, dan tidak setingkat dengan mereka-mereka (yang mengingkari ilmu Allah subhanahu wa ta’la).” (al-Iman, hlm. 331)

 

*Judul dari Admin

Sumber : https://asysyariah.com/al-qadariah-majusi-umat-ini/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *