Mutiara Nasehat Untuk Musha’fiqah Muhammad bin Hady dan Pengikutnya

Diposting pada 147 views

oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi hafizhahumallah

 

“Semua durusmu telah berubah menjadi celaan terhadap saudara-saudaramu Salafiyyin dan menggelari mereka dengan julukan-julukan jelek.

Sungguh aku telah melarangmu dari perbuatan itu dan aku katakan kepadamu “Gunakanlah lafazh-lafazh yang tepat.”

Namun kamu tidak mempedulikan nasehatku. Hingga kamu sampai pada tingkat melakukan qadzf terhadap kehormatan seseorang yang tak bersalah. Kamu tuduh dia dengan perbuatan zina dan mesum, kau lakukan tuduhan tersebut di salah satu masjid.

Apakah hal ini pantas dilakukan oleh seorang dai besar yang menginginkan umat mendapatkan hidayah kepada al-Haq dan menyelamatkan mereka dari kebatilan??!!”

(dari Bayan tentang Fitnah Muhammad bin Hadi, oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi halaman 9)

___________

“Sungguh aku telah meninjau permasalahanmu, maka aku dapati engkau seperti seorang yang mengumpulkan kerikil-kerikil menjadi satu batu, untuk membunuh lawanmu dengannya.

Tak sepantasnya seorang yang tingkatannya seperti Anda dalam ilmu dan dakwah di jalan Allah, untuk mencatat kesalahan-keselahan – jika memang benar ada – dalam waktu yang lama tanpa membantahnya. Dengan itu Anda telah sengaja membiarkannya menjadi besar dan berkembang, sehingga menetaskan sesuatu yang membuatmu tidak suka. Maka Anda-pun keluar dengan bayan yang Anda ungkapkan dengan judul _”Sekarang saatnya bagi Muhammad bin Hadi untuk keluar dari Diamnya”_, *jadi Anda dulu diam??*

Baca juga :  Bersungguh-Sungguh Dalam Tabayyun dan Tatsabbut (Cek dan Ricek)

Bolehkah bagi Anda ketika melihat suatu kesalahan masuk ke dalam tubuh salafiyyin, lalu Anda diam tanpa ada nasehat dan peringatan, sementara Anda melihat kesalahan ini berkaitan langsung dengan agama dan dakwah??!  Apakah sikap ini pantas bagi orang semisal Anda?

Seorang muslim itu cermin bagi saudaranya, sebagaimana diungkapkan: ‘Hanyalah seorang teman itu adalah orang yang apabila engkau katakan, kamu benar, dan apabila engkau tertimpa musibah, maka dia mengumpulkan segala yang dia miliki demi kamu supaya tetap bisa berkumpul denganmu.’

Kemashlatan apakah yang ingin diraih dengan mengakhirkan bayan (penjelasan) dan menyembunyikan kesalahan-kesalahan tersebut?

Apakah Anda hendak menunggu dari mereka kesalahan besar, supaya Anda keluar sebagai hakim atas mereka, mentahdzir dan menjatuhkan vonis bid’ah atau fasiq, serta menyematkan gelar-gelar buruk? Kenapa Anda tidak segera menyelamatkan mereka sebelum mereka jatuh pada kesalahan yang lebih besar lagi, dalam anggapan Anda?

Judul yang Anda buat untuk muhadaharah Anda justru celaan bagi Anda. Tidak menampilkan Anda sebagai seorang yang pemberi nasehat. Namun menampilkan Anda sebagai seorang pengintai.”

(dari Bayan tentang Fitnah Muhammad bin Hadi, oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi. | halaman 9 – 10)

_____________________

Telah lalu, bahwa saya Hasan bin Abdul Wahhab,  telah aku jelaskan bahwa Muhammad bin Hadi salah dalam jalan yang dia tempuh ini, yaitu menuduh saudara-saudaranya salafiyin tanpa hujjah dan tanpa dalil. al-Haq (kebenaran)  bersama Asy-Syaikh Rabi’, ini secara global.

Cara yang dilakukan oleh Muhammad bin Hadi tidak pernah kami ketahui dari para imam salaf terdahulu dalam menyikapi ahlus sunnah ketika salah dalam sebuah permasalahan, atau dalam men-jarh (mencerca) orang yang keluar dari jalan yang benar dalam sebuah kasus.

Banyak dari para mujtahidin pada generasi awal maupun generasi kemudian – sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam – terjatuh dalam kebid’ahan yang bisa jadi itu bid’ah yang telah diketahui. Meskipun demikian, bantahan terhadap mereka hanya terbatas dalam lingkup ilmu dan penjelasan atas hakekat sebenarnya. Tidak sampai masuk ke dalam lingkup vonis hukum, sifat, dan pemberian gelar-gelar buruk, seperti yang dilakukan oleh ahlul bid’ah ketika menggelari ahlus sunnah dengan gelas _tajsim_ atau _hasyu_ “

(dari Bayan tentang Fitnah Muhammad bin Hadi, oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi. | halaman 2)

_____________________

Baca juga :  Bersungguh-Sungguh Dalam Tabayyun dan Tatsabbut (Cek dan Ricek)

“Aku – Hasan Abdul Wahhab al-Banna – telah hidup dalam dakwah tersebut selama hampir tujuh puluh tahun, namun aku tidak pernah melihat pertentangan antara ulama dan para penuntut ilmu seperti apa yang aku lihat dari Anda (Muhammad bin Hadi,  pen) dalam pertentangan ini.”

(dari Bayan tentang Fitnah Muhammad bin Hadi, oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi. | halaman 9)

______________________

“Kalau bukan karena kedudukan asy-Syaikh dan peran nyata beliau, niscaya Muhammad bin Hadi tidak akan memiliki kedudukan di tengah-tengah para murid asy-Syaikh Rabi’ di dunia Islam.

Apakah pantas terhadap seorang tokoh yang dakwahnya mencapai segenap ufuk, kemudian muncul Muhammad bin Hadi menentang sang tokoh dengan fitnah ini yang tak memiliki dasar,  serta menyibukkan tokoh tersebut bahkan menyibukkan dunia Islam dengan persoalan yang tak ada nilainya?!”

(dari Bayan tentang Fitnah Muhammad bin Hadi, oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan bin Abdul Wahhab al-Banna dan asy-Syaikh Ali al-Washifi. | halaman 5)

 

📥 Selengkapnya unduh di sini
https://up.top4top.net/downloadf-9745yfex1-pdf.html

Judul Asli :
MUTIARA-MUTIARA NASEHAT KEPADA YANG MASIH BERAKAL DARI KALANGAN MUSHA’FIQAH
Majmu’ah Manhajul Anbiya
Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *